Monday, March 30, 2020

Meminjam Dahulu, Memiliki Kemudian #2

Saykoji dok.

Apa kabar peradabanku?

Sudah runtuh kayanya....

Semoga yang sedang sakit lekas pulih dari sakitnya. Karena sekarang-sekarang ini sedang maraknya virus corona atau yang sering disebut covid 19, yang merasa sehat tetap jaga kesehatannya ya stay healthy, stay safe and stay at home. Kalau gak urgent banget dan memang gak terlalu perlu-perlu banget keluar ya jangan keluar tetap di rumah aja. Dan berkegiatanlah di rumah, bisa kan work from home. Setidaknya kita peduli dengan keadaan sekarang ini, dan memperkecil virusnya agar tidak terlalu menyebar terlalu luas lagi.


Nah, sekarang yang masih punya tunggakkan, semoga bisa mengembalikan cepat ya. Karena saya ini bukan anak sultan. Saya hanya manusia biasa yang banyak kebutuhannya, lagian juga itukan hak saya.

Sebetulnya saya sudah pernah ngebahas masalah ini sih sebelumnya, kalau ada yang mau baca lagi silakan klik ke sini Meminjam Dahulu, Memiliki Kemudian.

Kadang suka geram ya sama orang yang meminjam, tapi gak bisa disalahin juga sih ya kenapa juga minjamkan. Sebetulnya saya meminjamkan itu kan pasti ada alasannya dan mereka juga yang minjam mengucapkan perjanjian. Ya gak ujuk-ujuk saya pinjamkan begitu saja. Terus saya orangnya suka kasihan gitu sih, padahal ditulisan sebelumnya saya sudah janji gak mau meminjamkan apapun sama yang mau minjam. Tapi pas dipikir lagi, gimana coba kalo saya lagi kesusahan terus membutuhkan?Pasti juga saya akan meminjam. Tapi saya orang yang komitlah, sebisa mungkin saya akan mengembalikannya sesuai yang saya janjikan sadar diri aja gitu sih. Dan kebetulan lagi kalo saat saya meminjamkan, saya punya rezeki lebih ya apa salahnya sih membantu.

Lucunya lagi, orang yang meminjam itukan dia sendiri yang janji kapan dikembaliinnya, tapi kebanyakan orang meminjam itu suka lupa sama janjinya. Walaupun mereka sudah ada niat pastinya kita yang meminjamlah yang disalahin, duh apa gak kebalik tuh?

"Waktu itu kan saya sudah mau nyicil"

Ya kalau mau nyicil jangan cuma perkataan aja dong, lansung aja transfer toh kalian kan tau nomor rekeningnya. Jangan saat ditagih ngeles aja, terus seolah saya ngedesak-desak. Loch itu kan hak saya, saya bukan lagi ngambil hak kalian.

Ngerasa gak sih kalo kita sedang nagih hak kita, kita merasa kaya pengemis banget? Padahal itu hak kita.

Ya saya merasanya begitu sih, kaya ngemis-ngemis gitu. Perasaan yang gak enak banget loch, masa kita ngemis hak kita sendiri. Aduh sedih banget rasanya. Misal bilangnya mereka mau nyicil tiap bulannya ya lakukanlah, tinggal transfer aja tiap bulannya terus kasih tau bukti transfernya ya setidaknya kabarilah orang yang diutangi ini. Jangan yang minjamkan terus yang tagih-tagih, kalau memang sudah niat begitu ya sadar diri aja.

"Pasti saya bayar, tenang aja"

Ya saya lah sebagai yang meminjamkan yang gak tenang, kadangkan ucapan sama tindakannya beda. Itu terbukti ya, kalau saya anak sultan sih boleh deh saya mintanya kapan-kapan. Tapi sekali lagi saya ini kan bukan anak sultan, saya juga punya kebutuhan dan kebutuhan saya juga banyak yang mendesak. Kalu cuma 100.000 aja mah saya iklasin deh buat jajan, nah kalo yang sudah berjuta-juta? Aduh saya keberatan maaf, sekali lagi saya bukan anak sultan.

"Laporin aja saya ke polisi, saya sudah punya niat baik ko untuk mengembalikannya. Saya tidak takut dilaporkan polisi"

Alah, yang malesnya lagi kenapa ngancem gitu ya? Saya pun nagihnya baik-baik, gak pakai jasa penagih utang atau bawa tukang pukul ko. Saya taulah kalian hebat, saya apa atuh cuma mau hak saya kembali aja.

"Saya usahakan, dan masih saya usahakan"

Padahal kalian itu kerja, tapi kadang orang yang mengutang itu suka gak mau menyisihkan gajinya untuk utangnya sendiri. Kalau pun ada niat menyisihkan, tapi tetap dilupa-lupain. Kalau gitu? Masa saya harus give up? NO WAY!!!

Udahlah, sadar diri ajalah kalian. Utang itu ada kewajiban untuk dikembalikan, bukannya anteng bae. Ketika kalian bilang taip bulannya akan menyicil, bukankah wajar jika saya menanyakannya sebulan kemudian?

Ketika itu kamu yang butuh, tapi sejujurnya saat ini saya yang butuh. Jangan saat saya menagihnya malah galakkan kamu dan seolah tidak perduli. Saya cuma menagih hak saya, hanya itu saja. Sampai sini ngerti gak?

Saya bersyukur gak punya utang ke siapa pun. Tapi yang punya utang, tau diri dan sadar diri ya dikabari lah yang diutangi ini, jangan buat yang minjamkan jadi merasa pengemis gitu padahal itu haknya.

Terkadang orang yang dibantu itu tidak punya hati dan tidak perduli lagi, atau jangan-jangan tidak tau diri?

Ya kita lihat saja deh, apa yang dibilang niat baiknya itu ngabarin ke saya tidak ya? Atau cuma wacana saja?

Entahlah....

Sedih dan speechless.



No comments:

Post a Comment